banner 728x250
Daerah  

Mempertahankan Gerakan “KOPERASI” IDIALIS – Lebih Sulit Dari pada Meloloskan Sepak Bola INDONESIA Ke piala dunia ( H Sunu Budiman )

– Analogi Final Piala Dunia: Disiplin Tim Jadi Kunci, Sama Seperti Bertahannya Koperasi*

*Jombang* – Sebuah kajian ilmiah ( BPk, H Sumu Budiman ) yang bertepatan Memperingati HUT KOPERASI yg ke 79 menyoroti kemiripan antara ketatnya pertandingan final Piala Dunia dengan tantangan mempertahankan eksistensi koperasi di Indonesia.

Dalam kajian tersebut disebutkan pertandingan final 19 Juli 2026 antara Spanyol vs Argentina menjadi contoh bagaimana disiplin kolektif menentukan hasil.

“Spanyol dalam penyerangannya, tidak satu pun pemain yang minim melakukan kesalahan individu. Sementara Argentina dalam bertahan, tidak satu pun pemain yang lengah,” tulis kajian itu.

Akibatnya, selama 90 menit waktu normal tidak tercipta gol sama sekali. Gol baru terjadi setelah masuk masa perpanjangan waktu. “Itulah kesulitan pertandingan Piala Dunia. Yang menang adalah tim dengan kesalahan paling sedikit,” lanjut kajian tersebut.

## *4 Tantangan Besar Koperasi Saat Ini*

Peneliti menarik benang merah dari laga tersebut ke dunia perkoperasian. Menurut kajian, mempertahankan koperasi saat ini menghadapi 4 kesulitan utama:

1. *Regulasi bertumpuk*
Koperasi wajib menaati UU Koperasi dan berbagai peraturan dari Kemenkop yang jumlahnya terus bertambah. Ketidakpatuhan administrasi sering menjadi penyebab koperasi tidak sehat.
2. *Minimnya kepedulian anggota dan masyarakat*
Menggerakkan anggota untuk menumbuhkembangkan koperasi dinilai sangat susah. Budaya “memiliki bersama” belum sepenuhnya tumbuh.
3. *Butuh pembinaan serius dari pemerintah*
Koperasi pada dasarnya adalah badan usaha dengan tujuan kesejahteraan anggota. “Mustahil dilepaskan dan dibiarkan bertarung bebas dengan badan usaha lain baik swasta maupun konglomerasi,” tegas kajian itu. Peran negara sebagai pembina disebut mutlak.
4. *Lemahnya kontribusi pendidikan terhadap SDM*
Dunia pendidikan dinilai minim memberi sumbangan dalam membangun SDM perkoperasian. Lulusan lebih banyak memahami perusahaan konvensional, bukan prinsip RAT, SHU, dan pengelolaan demokratis koperasi.

## *Kesimpulan*
Baik di lapangan bola maupun di koperasi, kuncinya sama: minim kesalahan individu, kekompakan tim, dan pembinaan berkelanjutan.

“Kalau 11 pemain kompak seperti Argentina dan Spanyol, dan ada pelatih serta sistem yang mendukung, maka gol kemenangan dan koperasi yang kuat bisa sama-sama tercapai,” tutup kajian tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *