banner 728x250

Dari Pagerwojo, PAN Sidoarjo Nyalakan Mesin Perjuangan: Target 10 Kursi DPRD 2029 Dikunci dengan Semangat Baru

SIDOARJO//tower.i-news.site.              Langit Pagerwojo, Minggu (3/5/2026), menjadi saksi lahirnya kembali semangat besar Partai Amanat Nasional (PAN) Sidoarjo. Bukan sekadar peresmian kantor, momentum itu menjelma menjadi titik balik, sebuah deklarasi bahwa mesin politik PAN kembali dipanaskan, dengan target jelas: 10 kursi DPRD pada 2029.

Di tengah suasana khidmat, Ketua DPD PAN Sidoarjo, Khulaim Junaidi, berdiri dengan penuh keyakinan. Baginya, kantor baru bukan hanya bangunan berdinding beton, melainkan simbol perjalanan panjang, pengorbanan kader, dan harapan masyarakat yang dititipkan pada PAN.

“Kantor ini adalah saksi perjuangan. Tapi lebih dari itu, ini adalah pusat gerakan, tempat kita menyusun langkah untuk rakyat,” ucapnya dengan nada tegas.

Acara yang dirangkai dengan tasyakuran dan pengukuhan kepengurusan periode 2025–2030 itu dihadiri jajaran DPW PAN Jawa Timur serta tokoh agama dari NU. Doa bersama yang dipimpin ulama setempat menambah nuansa spiritual, seolah menegaskan bahwa perjuangan politik tak bisa dilepaskan dari kekuatan langit.

Namun yang paling mencuri perhatian adalah arah baru yang diumumkan Khulaim. Ia mengubah paradigma lama: kader tidak lagi menunggu aspirasi datang, melainkan harus turun langsung menyapa masyarakat.

“Setiap Jumat, kita turun. Kita datangi rakyat. Tidak ada lagi cerita menunggu di kantor. Kita hadir di tengah mereka,” tegasnya, disambut anggukan para kader.

Sekretaris DPW PAN Jawa Timur, Husnul Aqib, mengingatkan bahwa PAN Sidoarjo pernah mencatat sejarah dengan meraih delapan kursi DPRD. Ia menilai capaian itu bukan kebetulan, melainkan hasil kerja keras kolektif yang kini harus dihidupkan kembali.

“Kalau dulu bisa delapan, sekarang sepuluh bukan mimpi. Tapi syaratnya satu: kerja bersama, solid dari atas sampai bawah,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya collective work, kerja kolektif lintas struktur yang menjadi fondasi kekuatan partai. Dengan kantor permanen, menurutnya, identitas dan arah gerak PAN kini semakin jelas.

Di sisi lain, KH. Cholil memberikan pengingat yang menyejukkan. Dalam pandangannya, politik tanpa spiritualitas akan kehilangan arah.

“Perjuangan harus dibarengi keikhlasan. Jangan hanya mengejar hasil, tapi juga keberkahan,” tuturnya lirih, namun menghunjam.

Dari akar rumput, suara yang lebih tajam muncul. Mistari, aktivis PAN dari DPC Jabon, berbicara tanpa tedeng aling-aling. Ia mengingat masa ketika PAN begitu dekat dengan rakyat, ketika kader hadir di desa, bukan hanya saat musim politik.

“Dulu kita kuat karena bersama rakyat. Sekarang, itu yang harus kita kembalikan,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya sektor UMKM dan pertanian sebagai tulang punggung kekuatan partai. Menurutnya, politik tidak bisa dilepaskan dari realitas ekonomi masyarakat.

“Kalau ranting punya usaha, punya kekuatan ekonomi, itu bukan hanya bertahan, itu bisa menang,” tegasnya.

Menjawab berbagai dinamika itu, Khulaim menegaskan langkah strategis: memperkuat struktur hingga ke desa, merangkul kembali tokoh-tokoh lama, dan membuka lembaran baru tanpa sekat.

“Kita satukan kembali kekuatan. Desa-desa yang dulu jadi basis kemenangan harus kita hidupkan lagi,” ujarnya.

Tak berhenti di situ, ia juga menyoroti perubahan zaman. Generasi muda kini menjadi penentu. Milenial dan Gen Z, dengan cara pandang berbeda, menuntut pendekatan baru.

“Mereka tidak ingin didikte. Mereka ingin didengar,” katanya.

Karena itu, PAN Sidoarjo mulai melirik ruang digital sebagai medan perjuangan baru. Media sosial seperti TikTok bukan lagi sekadar hiburan, melainkan alat komunikasi politik dan pemberdayaan ekonomi.

Konsep digital empowerment pun diusung, mendorong generasi muda tidak hanya aktif secara politik, tetapi juga mandiri secara ekonomi melalui teknologi.

Acara ditutup dengan istighotsah, doa yang mengalir penuh harap. Namun gaungnya tidak berhenti di situ.

Keesokan harinya, semangat kader tumpah ke jalanan. Di kawasan bekas Tol Pedhot Jabon, yang menjadi simbol luka akibat lumpur Lapindo, berdiri baliho raksasa berukuran 2×6 meter. Tinggi menjulang, seolah menantang langit.

Menurut Mistari, itu adalah baliho tertinggi di wilayah Jabon. Tak hanya itu, kader juga membagikan uang pecahan Rp10 ribu kepada masyarakat, menciptakan keramaian yang menyedot perhatian warga dan pedagang.

Aksi itu sederhana, namun sarat makna: PAN ingin kembali hadir di tengah rakyat, bukan hanya dalam kata, tetapi dalam tindakan.

Kini, dengan mesin yang kembali dinyalakan, PAN Sidoarjo bersiap menatap masa depan. Target sudah dipasang, strategi mulai dijalankan, dan semangat telah dibangkitkan.

Satu hal menjadi benang merah dari semuanya: kemenangan hanya akan lahir dari soliditas dan kedekatan nyata dengan rakyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *