banner 728x250

Di Tengah Isak Duka Kalidawir, Wabup Sidoarjo Hadir Menguatkan: Tragedi Balita Tenggelam Jadi Alarm Kewaspadaan Bersama

Sidoarjo//tower.i-news.site.   13 April 2026, Langit Kalidawir seolah ikut berduka. Di sebuah rumah sederhana di Kecamatan Tanggulangin, suasana haru menyelimuti setiap sudut ruangan. Tangis yang pecah, doa yang lirih, dan kesunyian yang menyesakkan menjadi saksi perpisahan yang begitu memilukan, kepergian Gibran Septian, balita berusia 1,7 tahun yang harus meregang nyawa akibat terseret arus sungai.

Duka itu tidak hanya dirasakan keluarga, tetapi juga mengetuk nurani banyak pihak. Wakil Bupati Sidoarjo, Mimik Idayana, hadir langsung di rumah duka, Senin (13/4/2026), membawa empati yang tulus sekaligus pesan penting bagi masyarakat luas.

Dengan langkah pelan dan wajah penuh keprihatinan, ia menyapa keluarga korban. Suasana hening seketika berubah menjadi tangis yang kembali pecah saat ungkapan belasungkawa disampaikan. Kehadirannya bukan sekadar seremonial, melainkan wujud nyata kepedulian pemerintah terhadap warganya yang tengah dirundung duka mendalam.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya. Semoga keluarga diberikan kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan dalam menghadapi cobaan ini,” tuturnya dengan suara bergetar.

Turut mendampingi dalam kunjungan tersebut, Kepala BPBD Sidoarjo Sabino Mariano dan Camat Tanggulangin Arie Prabowo, yang bersama-sama menunjukkan bahwa tragedi ini adalah luka kolektif yang harus dihadapi dengan kebersamaan.

Peristiwa yang terjadi beberapa hari lalu itu kini telah berujung pada kepasrahan yang berat. Meski hati masih teriris, keluarga korban mencoba menerima kenyataan pahit ini sebagai takdir dari Sang Pencipta. Sebuah keikhlasan yang lahir dari luka terdalam.

“Anak telah ditemukan dalam kondisi utuh, dan keluarga sudah berusaha menerima ini sebagai ujian dari Allah SWT. Kita semua harus belajar ikhlas, meskipun tidak mudah,” ungkap Mimik, berusaha menenangkan suasana yang sarat emosi.

Namun di balik kesedihan yang menyelimuti, tersimpan pesan penting yang tidak boleh diabaikan. Tragedi ini menjadi pengingat keras akan pentingnya kewaspadaan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai.

Mimik menekankan bahwa pengawasan terhadap anak-anak, khususnya balita, harus menjadi prioritas utama. Usia yang masih sangat rentan membuat mereka belum mampu memahami bahaya di sekitarnya.

“Permukiman di bantaran sungai harus menjadi perhatian bersama. Anak-anak membutuhkan pengawasan ekstra, karena satu kelalaian kecil bisa berakibat fatal,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa ketertarikan anak terhadap air adalah naluri alami, namun tanpa pendampingan, hal itu justru bisa menjadi ancaman serius.

“Air selalu menarik bagi anak-anak, bahkan bagi orang dewasa. Bedanya, anak kecil belum memahami risiko. Di sinilah peran orang tua menjadi sangat krusial,” tambahnya.

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, lanjutnya, akan memperkuat koordinasi lintas sektor guna meningkatkan pengawasan di wilayah rawan, termasuk edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya keselamatan anak di lingkungan sekitar.

Tragedi ini menjadi luka yang dalam, namun juga peringatan yang nyata. Bahwa di balik derasnya arus sungai, ada ancaman yang tak terlihat. Dan di balik setiap kehilangan, tersimpan pesan agar kita lebih peduli, lebih waspada, dan lebih menjaga mereka yang paling berharga dalam hidup kita.

Sebab, tak ada yang lebih menyayat hati daripada kehilangan yang datang begitu cepat, di saat lengah yang tak pernah kita duga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *