banner 728x250

Mengetuk Nurani di Kali Tengah: Saat Negara Hadir untuk Putri, Anak Disabilitas yang Bertahan dalam Pelukan Cinta Sang Ayah

SIDOARJO//3 Juni 2026,,,,,Di balik gang sederhana yang membelah pemukiman warga di Kali Tengah RT 04 RW 01, Kecamatan Tanggulangin, tersimpan sebuah kisah yang tak sekadar tentang kemiskinan atau keterbatasan. Kisah ini adalah tentang cinta yang tak pernah menyerah, tentang keteguhan seorang ayah yang memilih bertahan demi senyum putrinya, serta tentang harapan yang akhirnya datang mengetuk pintu rumah mereka.

Di rumah sederhana itulah, Putri Febbyan Nitawan, seorang anak penyandang disabilitas, menjalani hari-harinya bersama sang ayah tercinta, Bambang Irawan. Tidak ada kemewahan, tidak ada kehidupan yang mudah. Yang ada hanyalah perjuangan tanpa henti dan kasih sayang yang terus mengalir meski diterpa berbagai kesulitan hidup.

Selama bertahun-tahun, Bambang menjadi sosok yang memikul seluruh tanggung jawab keluarga. Ia merawat, menjaga, mendampingi, sekaligus menjadi sumber semangat bagi Putri. Dalam sunyi dan keterbatasan, keduanya berjuang menghadapi kehidupan dengan kekuatan yang mungkin tak pernah terlihat oleh banyak orang.

Namun kisah mereka akhirnya sampai ke telinga masyarakat dan para pemangku kebijakan. Mendengar kondisi yang dialami Putri dan keluarganya, Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Sidoarjo, H. Moch. Dhamroni Chudlori, M.Si, turun langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk melihat dan memastikan keadaan sebenarnya.

Kedatangan rombongan tersebut bukan sekadar kunjungan seremonial. Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa masih ada kepedulian yang hidup, bahwa negara tidak boleh menutup mata terhadap warganya yang sedang berjuang dalam keterbatasan.

Turut hadir dalam kunjungan tersebut Kasi Kesra Desa Kali Tengah, petugas SLRT, Satpol PP, Ketua RT setempat, serta perwakilan Kecamatan Tanggulangin. Kehadiran berbagai unsur itu membawa pesan kuat bahwa persoalan kemanusiaan tidak bisa dipikul sendirian, melainkan harus menjadi tanggung jawab bersama.

Saat memasuki rumah yang ditempati Putri dan ayahnya, suasana haru langsung terasa. Dinding-dinding sederhana rumah itu seolah menjadi saksi bisu perjalanan panjang seorang ayah yang tak pernah lelah berjuang demi buah hatinya.

Tak sedikit yang menundukkan kepala saat melihat langsung kondisi kehidupan mereka. Di tengah segala keterbatasan yang ada, Bambang tetap berusaha memberikan yang terbaik bagi Putri. Sebuah pengorbanan yang mungkin tidak selalu terlihat, tetapi begitu besar nilainya.

Dalam kesempatan tersebut, H. Moch. Dhamroni Chudlori menegaskan bahwa anak-anak penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk memperoleh kehidupan yang layak, pelayanan kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial, dan perhatian dari pemerintah.

“Kami hadir di sini bukan sekadar melihat kondisi Putri. Kami ingin memastikan bahwa hak-haknya sebagai warga negara benar-benar terpenuhi. Anak-anak disabilitas adalah amanah yang harus kita jaga bersama. Tidak boleh ada satu pun yang merasa ditinggalkan atau berjalan sendirian menghadapi kehidupannya,” tegas Dhamroni.

Ia juga meminta seluruh instansi terkait untuk segera mengambil langkah nyata dan terukur agar Putri memperoleh pendampingan yang berkelanjutan.

“Kehadiran pemerintah harus dirasakan langsung oleh masyarakat. Kami akan berkoordinasi dengan seluruh pihak agar ada solusi konkret, bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan Putri dan keluarganya,” tambahnya.

Sementara itu, anggota Komisi D DPRD Kabupaten Sidoarjo, H. Sutadji, yang turut hadir dalam sidak tersebut, menyampaikan bahwa kondisi yang dialami Putri menjadi pengingat bagi semua pihak agar lebih peka terhadap persoalan sosial yang ada di lingkungan sekitar.

“Kita tidak boleh menunggu persoalan menjadi besar baru bergerak. Kehidupan Putri dan ayahnya mengajarkan kepada kita tentang arti ketabahan dan perjuangan. Pemerintah, masyarakat, dan seluruh elemen harus bergandengan tangan agar mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan lebih layak,” ujar H. Sutadji.

Di hadapan para tamu yang datang, Bambang Irawan tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Dengan suara lirih yang beberapa kali bergetar, ia menceritakan perjalanan panjang hidupnya mendampingi Putri.

“Sebagai ayah, saya hanya ingin anak saya bisa hidup lebih baik. Apa pun kondisinya, dia adalah kebahagiaan saya. Saya akan terus berjuang selama saya masih mampu. Saya sangat bersyukur karena hari ini ada perhatian dan kepedulian yang datang kepada kami,” ungkap Bambang dengan mata yang berkaca-kaca.

Ucapan sederhana itu seketika membuat suasana menjadi semakin emosional. Sebab di balik kalimat tersebut tersimpan pengorbanan panjang seorang ayah yang selama ini memilih diam dan berjuang tanpa mengeluh.

Bagi warga sekitar, Bambang dikenal sebagai sosok yang penuh kesabaran. Ia menjadi contoh nyata bahwa cinta seorang ayah tidak pernah mengenal batas. Meski hidup dalam keterbatasan, ia tidak pernah meninggalkan Putri dan terus mendampinginya dengan kasih sayang yang tulus.

Kisah Putri Febbyan Nitawan sesungguhnya bukan hanya tentang seorang anak penyandang disabilitas. Kisah ini adalah cermin kemanusiaan yang mengajarkan arti keteguhan, pengorbanan, dan cinta yang begitu murni.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang sering membuat manusia sibuk dengan urusannya sendiri, kisah dari rumah sederhana di Kali Tengah ini mengingatkan bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan perhatian, kepedulian, dan uluran tangan.

Kunjungan Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Sidoarjo bersama jajaran terkait membawa secercah harapan baru bagi Putri dan ayahnya. Harapan bahwa mereka tidak lagi berjuang sendirian. Harapan bahwa ada tangan-tangan yang siap membantu. Dan harapan bahwa negara benar-benar hadir untuk mereka yang membutuhkan.

Sebab pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah daerah bukan hanya dilihat dari pembangunan fisiknya, melainkan dari sejauh mana kepedulian diberikan kepada mereka yang paling membutuhkan.

Dan dari rumah sederhana di Kali Tengah itu, masyarakat belajar satu hal yang sangat berharga: bahwa kasih sayang, kepedulian, dan kehadiran sesama dapat menjadi cahaya yang menerangi kehidupan, bahkan di tengah keadaan yang paling sulit sekalipun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *